Sultan Jailolo Resmi Buka Kegiatan Workhsop Kerjasama Lintas Agama Melawan Politisasi Agama
Sultan Jailolo Resmi Buka Kegiatan Workhsop Kerjasama Lintas Agama Melawan Politisasi Agama
PORDES HALBAR – Sultan Jailolo Ahmad Sjah resmi membuka kegiatan Program Penanganan Konflik Paham Keagamaan Tahun 2023, yang berlangsung di Gedung Pertemuan Kedaton Kesultanan Jailolo, Sabtu 29 Juli 2023.
Kegiatan yang mengusung tema Workhsop Kerjasama Lintas Agama Melawan Politisasi Agama ini, dihadiri perangkat adat Kesultanan Jailolo, Perwakilan Kesbangpol Halmahera Barat, Perwakilan Kemenag Halbar, Ketua FKUB Halbar, Akademisi Muhammadiya Ali Alting, Perwakilan GMIH, Wahda Islamiya, Fatayat NU Halbar, Keterwakilan Muhammadiyah, sekretaris KNPI Halbar, dan Ketua HIPMI Halbar.
“Saya berpesan, kita sebagai masyarakat adat harus bisa menjaga adat se atorang, semua isu isu sekarang sudah bersiulan di medsos, jadi kita harus menyaring dengan baik, mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa di Halmahera Barat.
Sultan Ahmad mengatakan, saat ini anak anak mahasiswa yang berada di Djogyakarta sedang melakukan Festival Budaya.
“Alhamdulillah mereka generasi mudah sangat peduli terhadap budaya di tanah orang, jadi kita yang ada di sini jangan sampai kalah, dan kegiatan ini juga kami dari 4 kesultanan di Moloku Kie Raha dapat diundang, Kita berikan Doa dan Restu kepada mereka agar mereka yang sedang kuliah dapat di berikan kesehatan dan dimudahkan segala urusan mereka,” ucapnya.
Sementara Direktur Institute Buku Suba kota Ternate, Sukarno M Adam menjelaskan, bahwa nama Buku Suba Institute ini tidak diartikan sebuah buku, akan tetapi buku ini adalah bahaasa Lokal namanya Gunung dan suba itu berada di gunung Gamalama.
“Jadi buku suba itu adalah gunung sembah atau bukit sembah yang berada di Gunung Gamalama, jadi itu adalah Bahasa lokal, lembaga kami ini sudah berdiri kurang lebih 5 tahun, dan kami sudah banyak melakukan riset, dan kerjasama kami sudah cukup di lokal maupun nasional,” jelasnya.
“Di Ternate sendiri kami sudah melakukan MoU dengan Pemerintah Kota Ternate, dan kemudian melakukan riset, yaitu kemajuan kebudayaan menyangkut dengan Warisan Budaya Takbenda, (WBTB), dan hasil riset kami sudah ada tiga menyangkut dengan ngogu adat Ternate, Tuala Lipa yang berada di Kepala, dan Ritual Fere Kie, itu kami sudah melakukan riset, dan dalam waktu kedepan akan di bukukan dan kami akan launching di sini juga, mudah mudahan tidak ada halangan,” imbuhnya.
Kemudian, lanjut dia, di Kota Tidore pihaknya juga kerjasama dan sudah melakukan riset Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS), dan untuk di Nasional sementara ini melakukan pendampingan Desa dengan program pembangunan, penguatan Desa (P3PD) di tiga titik kabupaten Halmahera Timur, Halmahera Utara, dan Kota Tidore Kepulauan. Lalu pihaknya juga bermitra di kemitraan Nasional di NGO, dan komite pemantauan otonomi Daerah di Jakarta, dan kami juga melakukan riset riset yang menyangkut dengan lokal, dan sekarang kami juga bermitra dengan Kemenag RI.
“Alhamdulillah kami lolos dalam program penanganan konflik di Maluku Utara mungkin satu satunya lembaga yang lolos dalam penangan Konflik maluku utara itu adalah lembaga kami,” ujarnya.
Sukarno menambahkan, bahwa program ini adalah program penangan konflik, ini sebenarnya mitigasi atau pencegahan dini menyangkut dengan penanganan konflik di Maluku Utara, sebenanrya ini menyangkut dengan politik identitas tetapi perlu kita ketahui bahwa identitas itu adalah keniscayaan.
“Jadi acara ini sebenarnya dua acara pada dua titik, kami melakukan workhsop di Halmahera Barat. Kenapa memilih di Halmahera Barat, karena bagi kami Halmahera Barat itu sangat plularis untuk Maluku Utara sehingga kami melakukan Workhsop di sini,” pungkasnya. (Riski)

