Hasil Monitoring dan Evaluasi, Dosen Penanggungjawab UIN Sunan Ampel Surabaya Bicara Soal Produk Nyao Abon Saria

PORDES HALBAR – Hasil monitoring dan evaluasi perkembangan program Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Kolaborasi Nusantara (KKN KN) yang berada di Desa Payo, Payo Tengah, Desa Bobo, Desa Bobo Jiko, dan desa Saria, berlangsung di Kantor Desa Bobo Jiko, Kecamatan Jailolo, Kabupaten Halmahera Barat, Senin 11 September 2023.

Usai pertemuan bersama mahasiswa KKN KN, Kepala Lembaga Penelitian dan pengabdian Masyarakat (LP2M) UIN Sunan Ampel Surabaya menilai strategi pengembangan produk Nyao Abon Saria yang di buat oleh mahasiswa KKN KN bersama pemuda pemudi Ibu ibu Desa Saria.

Kepala LP2M sekaligus penanggung jawab mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya, Agus Afandi, menjelaskan, bahwa masih banyak hal yang bisa di kembangkan seperti produk laut yang lain, jadi tidak cukup hanya sekedar produk satu macam saja.

“Kalau menurut saya produk yang di hasilkan teman-teman KKN Desa saria itu bukan hasil laut yang bisa di kembangkan banyak,” katanya.

Menurutnya, jika hanya abon kurang efektif, masih banyak produk yang lain yang bisa di kembangkan seperti, terasi, kerupuk, semua itu dihasilkan dari ikan, misalnya seperti ikan asin atau ikan yang sudah masak sehingga orang membeli itu dalam kondisi bagus dan rasanya khas.

“Saya memastikan bahwa program yang di jalankan mahasiswa kami bisa bermanfaat untuk masyarakat Desa Saria,” ujar Agus.

“Caranya bagus tapi tidak cukup di situ akan tetapi di kembangkan lagi contoh begini, Jadi gini apakah dengan abon itu sudah selesai ya tentu tidak, mungkin masih ada produk-produk lain yang menjadi masyarakat lebih banyak produknya dan memberi nilai ekonomi bagi masyarakat, karena kerja-kerja mahasiswa kami kalau bisa sebanyak-banyaknya memberi manfaat bagi masyarakat,” imbuhnya.

Agus mengaku sudah memberikan beberapa solusi di antaranya, lebih mempola-pola pelatihannya, kemudian mengembangkan kelembagaannya jika umpama terkait dengan nelayan, kelompok usaha nelayan.

Kemudian, lanjut dia, seperti aspek infrastrukturnya, alat-alat itu perlu di kembangkan dan pelatihan pemasaran juga penting karena masyarakat, nampaknya terkait dengan pemasangan mereka cukup kesulitan. Mungkin pemasaran melalui digital itu juga penting.

“Semua kita soroti karena masing-masing ada yang produk nelayan kemudian yang yang dari desa bobo kemudian yang lainnya lagi menjadi produk prawisata ada juga yang dari bobo juga mengembangkan produk dari selei pala dan sebagainya, tadi ide-ide baru yang kemudian di perkuat dalam bentuk ragamnya berbagai macam-macam produk. Jadi jangan hanya satu produk, pasar kadang-kadang tidak menarik dan kemudian rasanya khasnya juga perlu diperhatikan,” jelas Agus.

“Harapan saya ada kelanjutannya dari kampus untuk memperdayakan masyarakat yang tidak hanya mahasiswa akan tetapi dosen nya turun langsung di lapangan, kemudian proses-proses seperti ini di lanjutkan oleh masyarakat untuk menjadikan masyarakat agar lebih berkembang lagi,” harapnya.

Dia berharap, mereka lebih berusaha untuk mendorong agar masyarakat bisa berkembang dengan berbagai macam aset yang mereka miliki dengan cara membangun kelembagaannya yang bagus seperti Karang Taruna.

Kalau dari prawisata harus dibangun prodarisna kelompok parawisata nya dan syarat dari prodarisna kalau dari kalangan nelayan harus ada kolompok nelayannya dan kemudian pelatihan-pelatihan SDM nya harus di perkuat kedepannya, sehingga lebih banyak lagi produk yang di hasilkan sehingga memberikan manfaat bagi masyarakat,” pungkasnya. (Riski)