Mantan Bupati Bicara Kemiskinan Dan Migas Bojonegoro, Kang Yoto: Semangat Berpolitik Ekstremnya Andum Berkat dan Ciptakan Berkat
Mantan Bupati Bicara Kemiskinan Dan Migas Bojonegoro, Kang Yoto: Semangat Berpolitik Ekstremnya Andum Berkat dan Ciptakan Berkat
PORDES BOJONEGORO – Lama tak terdengar gaungnya, Suyoto atau sering dipanggil Kang Yoto mantan Bupati yang pernah memimpin Bojonegoro dua periode (2008 – 2013 dan 2013 – 2018) mengungkapkan tentang kemiskinan, tembakau dan migas.
Kang Yoto menyampaikan bahwa Tembakau dan Migas adalah dua hal yang sangat dekat dengan kehidupan orang Bojonegoro.
Kang Yoto menyebut, kemiskinan di Bojonegoro sudah berlangsung sejak zaman kerajaan, penjajahan hingga masa kemerdekaan.
Hingga tahun 2000 Kabupaten Bojonegoro selalu di urutan pertama sebagai Kabupaten termiskin di Jawa Timur.
“Tahun 2008 kemiskinan Bojonegoro berubah di rangking 3 Jawa Timur, dan tahun 2016 pada rangking 11, namun angkanya masih di atas 14 persen,” ucap Kang Yoto membuka obrolanya dengan Kontributor Portal Desa Biro Tuban, Kamis 1 Juni 2023.
Kang Yoto mengatakan, kemiskinan perlahan terus berkurang sejak pemerintah memberikan bantuan pangan, kesehatan dan pendidikan dasar.
Infrastruktur pengairan terus dibenahi, pemanfaatan air dioptimalkan, infrastuktur pedesaan mulai tersentuh, industri migas, non migas dan pariwisata mulai berkembang. Anak anak muda semakin banyak yang berani membuka usaha dan menciptakan lapangan pekerjaan. Pendapatan warga naik dan orang miskin diurus Pemerintah.
Kang Yoto juga menyampaikan bahwa panen migas itu ternyata mirip dengan panen tembakau. Dalam panen tembakau ada masa nggowoki, tengah dan mucuki.
Dalam panen migas ada tahap early production, tahap peak production dan tahap penurunan (declining) hingga habis dan perbaikan. Bedanya soal lama masing masing masa atau tahapnya.
Panen puncak migas hari ini adalah bagian dari rangkaian panjang proses alam, politik, bisnis dan sosial.
Harga minyak dan tembakau tidak sepenuhnya ditangan pemilik. Bedanya; tembakau bisa ditanam setiap tahun sementara migas perlu jutaan tahun alam ini untuk memprosesnya.
Gunakan dan belanjakanlah hasil panen migas dengan tepat dan bijak untuk masa depan yang lebih baik.
“Menginvestasikan dengan tepat itu jauh lebih sulit dibanding menghabiskannya,” kata pria yang masih aktif sebagai Dosen di Universitas Muhammadiyah Gresik ini.
Lalu Kang Yoto mengutip prinsip pembangunan berkelanjutan yang di deklarasikan oleh Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) tahun 2015 bahwa kemajuan itu bukan ditentukan jumlah bangunan, tapi oleh kemampuan warga sebuah negara dalam menemukan dan menyelesaikan masalahnya untuk mencapai kesejahteraan bersama dengan mandiri, bersama dan berkelanjutan.
Menurut Kang Yoto, kunci memakmurkan Bojonegoro hanya SDM yang sehat, cerdas dan produktif, Lalu ciptakan pekerjaan dan lapangan pekerjaan.
“Semangat berpolitik di Bojonegoro itu ekstremnya adalah Andum berkat dan Ciptakan berkat. Namun semestinya digabung yakni ciptakan berkat berkelanjutan agar bisa andum terus. Jangan habiskan sesaat,” tutup Caleg DPR RI dari Partai NasDem Dapil Bojonegoro Tuban itu. (Ali Maskur/Kabiro)

