Menuju Pendaftaran Cakades, Fransiskus Wanggur Lakukan Ritual Adat Ting Hang Kolang
Menuju Pendaftaran Cakades, Fransiskus Wanggur Lakukan Ritual Adat Ting Hang Kolang
Labuan Bajo, PORDES – Dalam perhelatan pesta demokrasi pemilihan Kepala desa (Pilkades) serentak di Kabupaten Manggarai Barat Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) , Calon kepala desa Golo Wedong, Fransiskus Wanggur melaksanakan ritual budaya (teing hang kolang) memohon restu para leluhur di kampung Ndieng, Kecamatan Kuwus Barat, Kabupaten Manggarai Barat, Senin (20/06/2022).
Turut hadir dalam kegiatan tersebut,Tokoh masyarakat,Tokoh adat dan Tokoh muda dari kampung Ndieng Kondok dan Lempe.
Ritus (ritual) adat itu diyakini akan memberikan kemudahan dalam peroses pencalonannya dan jauh dari hal-hal yang tidak diinginkan, serta menjaga kerukunan persaudaraan dalam wilayah Desa tersebut,
Mulai saat pendaftaran sampai pada hari pemilihan.
Hal itu dijelaskan salah satu Tokoh adat kampung Ndieng, Fransiskus Gabut kepada Portal Desa di kampung Ndieng.
“Tegi berkak dehe empo, latang dukungan de Ahe kae, de Woe, agu de Anak Rona (Ritual ini di buat minta persetujuan para leluhur untuk dukungan dari keluarga besar desa Golo Wedong). selain itu kita mohon bimbingan dan tuntunan leluhur agar jauh dari hal-hal yang tidak diinginkan” terang Fransiskus Gabut.
Kata dia hal itu juga tidak terpisah degan sepirit Fransiskus yang meletakan budaya sebagai dasar politiknya dalam memenangkan pimilihan kepala Desa tersebut.
Selain itu, salah satu Tokoh yang dipercayai oleh Fransiskus sebagai penasehat sekaligus ketua Team pemenang dalam proses pencalonannya, mengunkapkan selain mohon restu dari leluhur, ritus adat ini merupakan penghormatan agar para leluhur turut berpartisipasi untuk meyejukan susana politik yang akan diselenggarakan tersebut.
“Penting sekali ritus adat ini diselenggarakan dalam hajatan pesta demokrasi, karena budaya sendiri juga memiliki nilai demokrasi, dimana lonto leok dan bantang cama dalam merumuskan sesuatu.” ungkap sumber yang enggan disebutkan namanya.
“Budaya ini sebagai alat pendingin, untuk meyejukan susana menjelang kontestasi politik. Atau sebagai sarana pengendali emosional. Karana adat memiliki makna persatuan dan kesatuan.” imbuhnya.
Sedangkan Fransiskus janggur menjelaskan, sebagai generasi milenial pewaris adat dan budaya, dia menjunjung tinggi nilai-nilai budaya tersebut dalam kemasan politik cinta kasih yang akan dia jalankan.
“Sebagai generasi milenial saya punya tanggung jawab moral dalam melestarikan nilai budaya Manggarai, dari awal kita sudah konsepkan budaya itu menjadi fondasi dasar saya dalam proses politik,” tukas Fransiskus.
Dia melihat warisan budaya leluhurnya itu merupakan salah satu potensi yang akan dia rawat, dan menjadikan itu sebagai salah satu sumber peningkatan ekonomi masyarakat di desa nya.
“Pendekatan budaya yang kita sajikan ini, sebagai salah satu bentuk komitmen saya dalam menjunjung tinggi nilai budaya, selain itu saya mau mengambarkan kepada masyarakat bahwa nilai budaya kita kedepan akan memberi dampak yang besar bagi ekonomi masyarakat.” jelasnya
Pantauan Portal Desa di halaman kampung Ndieng, terlihat ratusan masyarakat antusias mengikuti ritus adat degan penuh khikmat yang diselenggarakan di Rumah kediaman orang tua Fransiskus selaku bakal calon Kepala Desa tersebut. (okta)

