2 Hotel Berbintang di Labuan Bajo Diduga Gunakan Air Tercemar Saat KTT ASEAN Summit
Labuan Bajo, PORDES – Dua Hotel berbintang di Labuan Bajo, yakni Hotel Bintang Flores dan Hotel La Prima diduga mengunakan air bersumber dari kali air kemiri, yang mengandung bakteri Escherichia coli atau E. coli, untuk konsumsi tamu KTT ASEAN Summit ke-42.
Hal itu terungkap dari pengakuan Manager Operasional Hotel Bintang Flores yang biasa disapa Lik saat dikonfIrmasi Portal Desa melalui sambungan gawai, Kamis 4 Mei 2023.
“Memang kita masih pake pak untuk kegunaan operasional hotel, yang akan kita campur dengan air PDAM dalam satu bak. Karena PDAM itu memang gak bisa kita harapkan,” katanya.
Lik juga mengatakan, bahwa kebutuhan air di Hotel tempatnya bekerja tak bisa mengharapkan air yang bersumber dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Wae Mbeliling, lantaran airnya sering tidak jalan.
“Kadang tutup, dan ketika mereka (PDAM) kasih info ada pengaliran, begitu kita buka yang keluar cuma angin,” ungkap Lik.
Kris Molla, Kepala Operasional La Prima Hotel saat ditemui wartawan pada Rabu 3 Mei 2023 menjelaskan, bahwa pengunaan air yang bersumber dari air kemiri itu sudah dilakukan sejak awal pembangunan hotel, sebagai sumber utama air bersih yang dikonsumsi untuk memenuhi kebutuhan operasional hotel khususnya menyangkut aktivitas mandi dan cuci. Sementara untuk minum menggunakan air bersumber dari PDAM.
“Untuk sumber mata air kemiri yang kami gunakan itu hanya pada saat debit air dari PDAM tidak mencukupi kebutuhan operasional kami,” terangnya.

Ketika ditanya terkait hasil uji kelayakan sumber air yang digunakan tersebut, Kris Molla mengarahkan awak media untuk menanyakan ke pihak Dinkes dan Kemenkes RI.
“Mereka (Dinkes dan Kemenkes) telah melakukan pengambilan sample secara langsung di hotel kami pada hari Jumat 28 April 2023 yang lalu. Hasil uji layak tersebut menjadi kewenangan Kemenkes dan Dinkes,” ujarnya.
Disinggung soal data terkait kelayakan air yang bersumber dari air kemiri, Kepala operasional La Prima Hotel itu mengaku tidak memegang hasil uji lab sebagai landasan bahwa sumber air yang mereka gunakan benar-benar layak di gunakan.
Sementara, Hotel Bintang Flores membeberkan hasil uji lab yang dikeluarkan oleh Pemprov Bali kepada awak media dengan nomor sertifikat: 06353/LHU/Labkes/XII/2022 dengan rentang pengujian 30 Desember 2022 hingga 10 Januari 2023. Lokasi/titik sampling air sumur.
“Pak, kalau laporan semester 6 bulanan kita laporkan ke DLH Mabar. Jadi, hasil uji lab ada di DLH. Dinkes tidak punya laporan itu karena kita lapornya ke DLH sesuai aturan,” kata Kris.
Kris mengungkapkan, bahwa pihak Hotel mendapatkan ijin dari pemerintah propinsi NTT untuk memanfaatkan air dari sumber mata air kemiri.
“Kami juga sudah mendapatkan izin dari pemerintah provinsi, dan kami juga rutin membayar retribusi tersebut,” ungkap Kris.
Hingga berita ini dimuat, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Manggarai Barat, Paul Mami, dan Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Mabar, Sebastianus Wantung, belum memberi keterangan, hingga beberapa kali Portal Desa berupaya untuk konfirmasi melalui telpon dan pesan whatsapp namun belum juga merespon.
Direktur PDAM Wae Mbeliling Angkat Bicara
Menanggapi klarifikasi pihak managemen Hotel La Prima, Direktur BUMD Wae Mbeliling, Aurelius Endo angkat bicara. Menurutnya, Hotel La Prima menggunakan dua sumber mata air. Sebelum menjadi pelanggan kami, secara full mereka menggunakan air dari mata air kemiri.
“Kalau dikatakan bahwa untuk seluruh kebutuhan hotel mereka menggunakan air dari PDAM, dan hanya menggunakan air dari mata air Kemiri pada saat debit air PDAM menurun, pernyataan tersebut patut diragukan, karena kekuatan air kita untuk wilayah selatan sangatlah besar. Bahkan, untuk jalur Pede sampai hotel Jayakarta, khusus untuk hotel, kita gunakan Pipa 8 HDPE,” terang Dirut PDAM yang akrab disapa Reli.
Tetapi, lanjut Reli, juka melihat histori penggunaan air, sepertinya mereka lebih banyak menggunakan air dari sumber mata air Kemiri.
“Kita bicara fakta saja Pak, data histori penggunaannya bisa saya perlihatkan. Berapa sih pemakaian dia sebulan, kan datanya terukur. Sederhananya begini, kebutuhan dasar mereka untuk satu kamar hotel perhari adalah 150 liter air, dikalikan dengan banyaknya kamar hotel yang ada, maka akan diperoleh jumlah penggunaan air. Belum lagi kalau bicara pemakaian di pantry. Lalu bandingkan dengan data yang tercatat pada water meter mereka,” jelasnya.
Terkait kualitas dan keamanan air dari mata Air Kemiri, Reli mengatakan, bahwa tingkat kesadahan air kemiri itu sangat tinggi. Pihaknya pernah melakukan pengetesan, hasilnya tingkat kesadahannya 688 mg per liter.
Untuk diketahui, Kesadahan adalah satu parameter kimia tentang kualitas air bersih. Tingkat kesadahan air ditentukan oleh jumlah kalsium (Ca2+) dan magnesium (Mg2+).
Berdasarkan PERMENKES Nomor 492/MENKES/PER/IV/2010, kadar maksimal kesadahan yang diijinkan untuk air minum dan air bersih adalah 500 mg per liter.
“Kalau pihak hotel melakukan treatment teknologi untuk menekan tingkat kesadahan sampai mendapatkan zero (angka Nol), bagaimana kualitas peralatan mereka? Ini yang perlu dipertanyakan dan perlu dilakukan pengecekan lebih jauh oleh pihak yang berwenang. Saya tidak ingin masuk ke situ, mereka yang lebih tahu tentang kualitas peralatan yang digunakan,” tutup Reli. (Oktafianus)

