Viral! Postingan BPO-LBF di Medsos dapat Sorotan dari Masyarakat
Postingan BPO-LBF di Medsos dapat Sorotan dari Masyarakat
Labuan Bajo, PORDES – Postingan akun instagram Badan Pelaksana Otoritas Labuan Bajo Flores (BPOLF), mengundang perhatian serius dari masyarakat Manggarai Barat, NTT.
Postingan yang memperlihatkan wajah Kota Labuan Bajo degan tulisan “Selamat hari Selasa, Valentine bukan budaya kita, budaya kita itu foto di pantai-gunung terus captionnya Healing” dikecam keras oleh aktivis peduli pariwisata Labuan Bajo.
Ladis Jeharun mengatakan, postingan itu merupakan bentuk fitnahan BPOLF terhadap umat kristen katolik. Dimana umat kristiani meyakini valentine sebagai puncak kasih sayang bagi seluruh umat manusia.
“Saya masyarakat Manggarai Barat yang mengimani agama katolik sangat tersingung dengan postingan lembaga BPO-LBF ini, postingan itu merupakan fitnahan terhadap kami pengikut Kristus Yesus,” kata Ladis saat ditanya Portal Desa di Labuan Bajo.
Dirinya mengecam keras tulisan “Valentine bukan budaya kita”, karena dinilai tidak memahami makna pancasila yang tercantum dalam sila pertama Ketuhanan yang Maha Esa, dan apa yang dilakukan itu terkesan ada implikasi dan misi terselubung di balik postingan tersebut.
“Seharusnya kehadiran BPO-LBF ini memberi kedamain dan membawa kemajuan bagi pariwisata Labuan Bajo. Bukan malah merusak keharmonisan dalam keragaman masyarakat Manggarai Barat,” bebernya.
Bagi Ladis, valentine sangat penting dirayakan di Kota Pariwisata super premium. Untuk menjaga budaya kasih sayang dalam menyambut tamu dari luar yang kunjung ke Manggarai Barat.
Ladis menegaskan, agar BPOLBF hadir memberi kesejukan pada masyarakat Manggarai Barat, tanpa merusak tatanan budaya dan keyakinan yang dianut masyarakat setempat.
“Ketika misinya mau mempromosikan pariwisata Manggarai Barat, fokuslah pada hal itu. Jangan merembes ke hal-hal lain, apalagi yang tidak masuk pada domainnya mereka,” katanya.
Selain itu salah satu tokoh agama katolik, Ferdinandus Usman, Pastor Paroki St. Maria Vatima Wankung menjelaskan, sesungguhnya kasih sayang harus dirayakan setiap hari, tidak boleh hanya tanggal 14 Februari saja. Karena kasih sayang atau cinta kasih adalah isi dan inti kehidupan kristiani sebagaimana yang diamanatkan oleh Guru Agung Tuhan Yesus, “kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri”.
Namun, tidak salah juga jika kasih sayang dirayakan secara istimewa dalam hari Valentine yang dirayakan setiap 14 Febuari setiap tahun.
“Untuk mengingatkan kita akan kasih sayang sebagai anugrah terbesar, terindah dan termulia. Kasih sayang kiranya tidak bersifat narsistik tetapi selalu terarah kepada kebahagiaan, menghidupkan pengharapan atau optimisme di dalam diri sesama. Dan puncaknya adalah mengasihi Tuhan, Sang Kasih itu sendiri,” jelasnya.
Ketika dikonfirmasi Sisilia Lenia Jemana, Kepala Devisi publik BPO-LBF mengatakan sesungguhnya postingan tersebut merupakan bentuk promosi pariwisata.
“Kami membuat konten itu gunakan momennya untuk promosi pariwisata,” ujarnya.
Menurut Sisilia, Valentine memang bukan budaya kita karena asal sejarahnya dari luar. Tapi, memilih untuk merayakannya atau tidak itu pilihan masing-masing orang. Ia mengatakan ada beberapa budaya yang kemudian diadaptasi oleh masyarakat dunia. Diantaranya peringatan hari raya ayah, hari raya ibu dan valentine.
“Inikan budaya dari Roma kemudian diadaptasi oleh masyarakat dunia. Saya pikir orang Amerika juga tidak harus merayakan valentine kalau memang itu bukan budaya mereka,” pungkasnya.
Laporan: Oktafianus Dalang

