Menandai Akhir Ramadhan Pemuda Kautsar Pasang Ratusan Lampion
Menandai Akhir Ramadhan Pemuda Kautsar Pasang Ratusan Lampion. Portal Desa – Sumber Inspirasi Perubahan
Perawang, PORDES – Kemajuan teknologi tidak membuat masyarakat melupakan tradisi saat merayakan Hari Raya Idul Fitri 1443 H, Kemeriahan Lebaran seperti di kecamatan Tualang kabupaten Siak, tidak akan lengkap bila para pemuda tidak memasang pelita (lampu minyak) di kompleks mereka.
Tradisi Ramadhan di Jalan Sri Paduka Kampung Tualang kilometer 1 atau di kenal dengan jalan kulim, kecamatan Tualang kabupaten Siak. Khusus malam-malam terakhir Ramadan di jalan ini selalu diterangi dengan lampu colok. Lampu yang terbuat dari bekas botol minuman dan dipadu dengan sumbu berbahan bakar minyak tanah. Jangan sepelekan, lampu tradisional ini memiliki sejarah kuat ratusan tahun.
Kegiatan pemasangan ratusan lampion ini digagas oleh aliansi tokoh pemuda Kautsar, yang tak mau kehilangan kearifan lokal dan atraksi budaya.
Duwie MY, ketua pemuda Kautsar mengatakan, Pemasangan lampu colok ini tentu bukan tanpa tujuan.
“Ini merupakan agenda tahunan masyarakat dan pemuda Kautsar, saya berharap bulan puasa tahun ini lebih meriah lagi dibanding sebelumnya dengan adanya lampion itu,” kata Duwie Kamis malam (28/4/2022).
Pada tahun ini ada sedikit inovasi dari para pemuda Kautsar. Pada tahun sebelumnya hanya lampu colok berupa obor yang ditanam di pinggir jalan, tapi kali ini lebih mirip lampion. Di lampion itu terdapat lafaz Asmaul Husna.
“Pengerjaannya tidak memakan waktu lama. Karena dikerjakan bersama-sama,” sebutnya.
Lebih lanjut, Duwie menyebut lampion dibuat dari bahan kertas yang dibalut dengan menggunakan kawat. Kemudian diberi tulisan arab nama-nama Allah Asma’ul Husna serta nama Rasulullah SWT. Sementara untuk penempatan lampion itu di gantung.
“Lampion yang kita buat ini ada tulisan arab Asma’ul Husna sebanyak 99 dan di gantungkan zig zag, supaya tambah daya tarik oleh masyarakat,” terangnya.
Ica, salah satu pengunjung menyebut bahwa ia selalu menyaksikan penyalaan lampu colok ini setiap tahunnya. Ia menyebut bahwa semakin hari kreativitas pembuatan lampu colok oleh pemuda Kautsar semakin berkembang.
“Sejak kecil saya selalu menantikan kegiatan ini,” kata Ica.
Ica seakan mewakili warga lainnya, merasa bahwa lampu colok adalah pelengkap ibadah puasa. Puasa tak hanya soal ritual, namun juga soal budaya.
“Semoga bisa bertahan sampai saya punya anak cucu, sehingga tak hanya bisa bercerita tapi juga menunjukkan keindahan lampu colok,” ujarnya.
Dan harapan kedepannya pemerintah selalu mengkedepankan dan mensupport serta turut mensukseskan kegiatan pemuda seperti ini.
“Keterampilan seperti ini yang harus di perhatikan lebih khususnya oleh kepemerintahan Tualang, seperti yang di lakukan oleh Pemuda Kautsar, Top dah,” harapnya ke Pemerintah Tualang.
Pewarta: Ricky Zulvia Putra

