Oleh : Yani Suryani (Pendidik dan Pegiat Literasi)

Miris melihat headline yang  berjudul “ Jumlah Janda di Banten meningkat jadi 19.031 orang, Paling Banyak di Tigaraksa” , seperti dilansir Radarbanten.co.id. edisi 27/12/2023, beberapa media pun memberitakan terkait dengan jumlah kasus perceraian dan jumlah data janda se-Banten. Pengadilan Tinggi Agama Provinsi Banten mencatat kasus perceraian selama tahun 2023 sebanyak 21.140 perkara.

Dari jumlah itu, 19.031 perkara sudah diputus.  Data yang diperoleh Kompas.com, perkara terbanyak di Pengadilan Agama (PA) Tigaraksa 7.806, PA Serang 5.905, PA Tangerang 3.387 kasus. Kemudian, Pengadilan Agama Pandeglang 1.784 perkara, Pengadilan Agama Rangkasbitung 1.286, dan Pengadilan Agama Cilegon 973 kasus.

Jika membaca berita dari beberapa media, faktor menyebab dari perceraian itu adalah masalah ekonomi dan masalah orang ketiga. Mayoritas yang menggugat  adalah pihak istri (baca: Perempuan).

Pernikahan adalah sebuah proses pengikatan janji suci antara  seorang laki-laki dan dan seorang perempuan. Pernikahan adalah ibadah yang suci dan mulia tidak boleh dilakukan sembarangn karena pernikahan merupakan ibadah terpanjang dan harus dijaga sampai maut memisahkan. Namun ada apa jika malah banyak saat ini yang akhirnya justru ingin mengakhiri ikatan janji tersebut.

Ekonomi sering dijadikan alasan untuk akhirnya perceraian dianggap sebagai langkah penyelesaian. Saat ini  banyak manusia yang sudah terkontaminasi dengan gaya hidup yang lebih mengedepankan hawa nafsu. Manusia memang memiliki fitrah untuk bisa eksis di depan khalayak, diakui dan dilihat sempurna. Hingga akhirnya banyak yang penghasilan yang diterima tak sebanding dengan pengeluaran. Padahal kita tahu bahwa Allah itu memberikan kepada hambanya apa yang dibutuhkan bukan apa yang diinginkan.

Belum lagi saat ini lapangan pekerjaan  menjadi hal sulit  bagi warga negara. Gelombang Pemutusan Hubungan Pekerjaan (PHK) malah banyak terjadi. Sehingga tak sedikit dari kepala keluarga yang akhirnya menganggur atau memutar otak untuk berpikir bagaimana cara mendapatkan pekerjaan yang kadang malah membuat sebuah ketidaknyamanan, karena adanya keterpaksaan.

Pernikahan dini yang kadang disebut sebagai pemicu perceraian juga sering dijadikan alasan. Dini yang dimaksud sebenarnya adalah tak sedikit dari calon pengantin yang malah sudah melakukan hal yang terlarang (baca:berzina) karena sudah hamil. Ini pun seharusnya menjadi bahan renungan  bagi kita semua ada apa sebenarnya, dan mengapa ini justru banyak terjadi di Masyarakat. Bahkan jumlah kasus married by accident  (terjadinya perkawinan disebabkan kecelakaan berupa kehamilan sebelum pernikahan) meningkat dari tahun ke tahun. Akhirnya banyak yang sebenarnya menjalani pernikahan dengan kondisi terpaksa.

Ide kebebasan yang memang sudah melanda negeri ini seolah menjadi hal pemicu dari semuanya. Saat ini lewat bebasnya para penguasa saat menjabat, menjadikan leluasanya membuat aturan yang jika kita telaah aturan yang dibuat merupakan aturan yang tak berpihak pada rakyat. Rakyat sulit mendapatkan pekerjaan, namun di saat yang sama malah membuka keran lebar bagi para tenaga asing.

Jika itu tenaga ahli kita setuju namun kita lihat, apakah mereka itu ahli? Para penguasa bahkan duduk manis membahas kerjasama dengan asing dan aseng, dan lagi-lagi rakyat banyak menderita dan bahkan akhirnya status pengangguran pun disandangnya. Lalu rumah tangga yang seperti apa yang akhirnya dihasilkan jika kepala rumah tanggaya tak memiliki pekerjaan. Wahai penguasa dimana nuranimu. Padahal lapangan pekerjaan merupakan senjata ampuh pada saat meraka berkampanye. Lagi dan lagi hanya manis di bibir saja.

Saat ini banyak perempuan (Istri) yang  terhasut ide kebebasan. Bebas menentukan apapun. Sehingga sesuatu yang dibenci pun oleh sang pencipta  dilakukan demi memenuhi kepuasan. Tak sedikit istri yang akhirnya menggugat dengan alasan yang kadang sepele. Belum lagi dengan fenomena adanya CLBK yang terjadi. Pesatnya teknologi saat ini mampu mendekatkan yang jauh bisa  menjadi pemicunya. Reuni yang terjadi menyuburkan cinta terlarang karena kebebasan berprilaku. Penulis tak membenci reuni. Namun jadikanlah reuni itu untuk silaturahmi dan tebar kebaikan.

Sinetron dan gaya hidup para idola juga sering akhirnya menjadikan para Perempuan/istri menuntut hal yang merupakan ketidakmampuan baik bagi istri pun suami. Tak jarang  yang  rela mati-matian  untuk berpenampilam maksimal dan ingin dianggap eksis walaupun sebenarnya itu merupakan pemaksaan. Akhirnya rumah tangga kerap menjadi pertaruhan untuk diakhiri.

Semua agama tak  ada satu pun yang menganjurkan perceraian, bahkan ada yang sampai melarang, karena hanya maut yang dapat memisahkan. Islam membolehkan tapi Allah membenci. Untuk itu seharusnya. Untuk itu seharusnya kita berusaha agar aktivitas yang kita lakukan adalah sesuatu yang menyenangkan bagi Allah utamanya

Untuk itu sebagai hamba apapun profesi kita kelak akan diminta pertanggungjawaban sekecil apapun perbuatan, keputusan, kebijakan dan aturan yang kita lakukan dan berlakukan.

“Ketahuilah setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawabannya atas yang dipimpin. Penguasa yang memimpin rakyat banyak dia akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya, setiap kepala keluarga adalah pemimpin anggota keluarganya dan dia dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya, dan istri pemimpin terhadap keluarga rumah suaminya dan juga anak-anaknya, dan dia akan dimintai pertanggungjawabannya terhadap mereka, dan budak seseorang juga pemimpin terhadap harta tuannya dan akan dimintai pertanggungjawaban terhadapnya. Ketahuilah, setiap kalian adalah bertanggung jawab atas yang dipimpinnya”. (HR al-Bukhari).

Dari kasus tingginya angka perceraian, semua pihak harus sadar akan menjadikan ini semua renungan bahwa ada yang salah dalam pemahaman dan pengaturan hidup. Ide kebebasan hanya akan menimbulkan kesengsaraan jka dilihat pada kacamata sekulerisme. Maka sejatinya kebebasan hakiki adalah Ketika nash dan hujjah dari  yang  maha benar bisa dijadikan aturan untuk mengatur kehidupan manusia yang terbatas adanya. Wallahua’lam