Oleh: Nazwar, S. Fil. I., M. Phil
(Penulis Lepas Lintas Jogja Sumatera)

“Maka apabila manusia ditimpa bencana dia menyeru Kami, kemudian apabila Kami berikan nikmat Kami kepadanya dia berkata, “Sesungguhnya aku diberi nikmat ini hanyalah karena kepintaranku.” Sebenarnya, itu adalahg ujian, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” Al-Qur’an Surat Az-Zumar: 49.

Seorang yang menggandrungi dunia tidak menyerah untuk berjuang untuknya hingga segala apa dikorbankan. Tidak peduli harus dimulai dengan banyak masalah, ribut dengan saudara dan disaksikan oleh tetangga dan orang banyak, ribut dengan tetangga dengan membuat tembok-tembok agar aman dan nyaman dalam beraktivitas serta senantiasa siang malam membuat kegaduhan tidak peduli kondisi tetangga bahkan saudara sendiri. Semua dilakukan untuk tujuan materi dan mencari keuntungan duniawi.

Tidak sampai di sana, segala jalan ditempuh menanggalkan rasa malu dan menghilangkan perasaan tidak enak dengan menerobos masuk ke berbagai sisi kehidupan manusia seperti sosial bahkan ibadah. Batasasan-batasan budaya dan norma kepantasan diterobos sedemikian rupa untuk menghilangkan rasa bersalah dan mencari kemuliaan di sana. Meski bukan suatu yang baru, namun cara demikian perlu dihindari dalam mencari kebaikan dari dunia dengan bebekal bimbingan tuhan.

Dikatakan bukan suatu yang baru lantaran hal tersebut sejatinya terjadi pada kaum zaman dulu seperti menyakiti para nabi bahkan membunuhnya, namun kemudian bersikap tenang dan biasa-biasa saja. Meski menyandang otoritas suci dari Tuhan berupa kenabian, terdapat banyak Ayat al-Qur’an yang mengabarkan bahwa para utusan Tuhan tidak lepas dari gangguan dari orang-orang yang tidak sepenuhnya menginginkan kebenaran namun menginginkan kenikmatan dunia, seperti harta, istri dan anak-anak dengan mendustakan dan berpaling dari kebenaran bahkan berusaha memusuhi dengan berbagai cara.

Di sisi lain, Allah juga menganugerahi orang-orang saleh pilihan dengan orang-orang baik di sekitarnya. Nabi Musa dengan seorang pemuda sebagaimana dikisahkan dalam Surat al-Kahfi misalnya, Nabi Isa dengan para pengikutnya dalam menemani perjalanan dakwahnya yang disebut Hawariyyun, dan Nabi Muhammad dengan keluarga seperti istri, kerabat, dan para sahabat Mulia yang senantiasa membenarkan, mendukung langkahnya, serta membela Beliau dan ajarannya dari berbagai pihak yang memusuhi.

Maka sudah barang tentu, sikap berlebihan terhadap berupa kecintaan terhadap dunia merupakan sikap yang jauh dari kebijaksanaan dan bahkan dapat menimbulkan kegilaan. Jauh dari normal dan sehat, gila justru akan menumpulkan akal bahkan hati seseorang untuk belajar atau sekedar berusaha memahami dan menginginkan kebijaksanaan. Sikap yang muncul justru negatif, hendak menguasai yang lain dengan berbagai cara, memiliki sesuatu yang jauh daripada haknya, juga sikap dasar negatif lainnya.

Maka seleksi akan masuknya keduniaan ke dalam diri atau lingkungan pribadi menjadi penting selain memahami berbagai unsur keduniaan yang sejatinya dapat melalaikan dan menjauhkan seseorang dari kebenaran sejati. Senantiasa mendahulukan akhirat dengan mengutamakan Allah adalah kuncinya.

Sikap mendahulukan akhirat bukan berarti secara otomatis meninggalkan dunia sepenuhnya, namun menyesuaikannya dengan aturan Allah dan kebutuhan pribadi adalah bagian dari langkah agar tidak lalai dan tertipu oleh dunia dan para pemangkunya.

Di antara penangkal ampuh terhadap berbagai fitnah, Nabi Muhammad Shallahu ‘alaihi wa salam mengajarkan sebuah do’a yang bahkan delafazakan dalam setiap salat di antaranya pada tahiyyat akhir (“dubur sholat”), yaitu: “Allahumma ini a’udzubika min adzaabi Jahanam, wa adzaabil qobri, wa min fitnatil mahya wal mamaat, wa min fitnatil masiihi ad-dajjaal” artinya Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari adzab Neraka Jahannam, dan dari adzab kubur, dan dari fitnah hidup dan mati, dan dari fitnah al-Masih Dajjal”.

Allahu a’lam.