Caling Walis Celung Ntaung Gendang Cekas, Ritus Ucapan Syukuran Budaya Manggarai
Caling Walis Celung Ntaung Gendang Cekas, Ritus Ucapan Syukuran Budaya Manggarai
Manggarai, PORDES – Cekas, Kampung terpencil yang terletak di dusun Waewua, Desa Sambi, Kecamatan Reok Barat, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), menggelar acara Caling Walis Celung Ntaung, salah satu upacara adat yang terbilang jarang dilakukan oleh setiap kampung di Kabupaten Manggarai.
Caling Walis Celung Ntaung merupakan upacara syukuran kepada Sang Pencipta alam semesta sebagai sumber kehidupan manusia dan juga kepada arwah para leluhur atas semua hasil jerih payah yang diperoleh dan dinikmati selama setahun.
Dari zaman para leluhur hingga kini, acara Caling Walis Celung Ntaung selalu ditandai dengan persembahan manuk raci (ayam putih campur hitam) sebagai kurban utama ucapan syukur.
“Ini namanya Caling Walis Celung Ntaung dengan ayam putih campur hitam sebagai hewan kurban utama. Dari dulu sejak saya lahir, para leluhur selalu melakukan ritus ini setiap tahun sebagai ucapan syukur atas semua hasil jerih payah warga Gendang Cekas,” kata Vinsensius Sumar (65) yang menjabat sebagai Tua Golo (Pemangku utama adat) Kampung Cekas, Minggu (10/7/2022).
Sebelum acara puncak, warga Cekas melaksanakan upacara Libur Kilo pada malam harinya. Libur kilo memberi makna, agar sebagai warga kampung yang taat pada adat, siap menyambut hari esok dengan semangat baru dan jiwa yang bersih.

Ritual adat libur kilo dijalankan oleh masing-masing suku dalam satu kampung yang siap melaksanakan upacara Syukuran tersebut.
Keesokan harinya, pasca puncak ritus adat Caling Walis Celung Ntaung, masyarakat secara kompak mengenakan busana adat Manggarai dengan mengadakan ritual awal penjemputan tamu undangan.
Di acara pembuka atau acara curu meka (penyambutan tamu), sebagian warga Gendang Cekas yang terdiri dari 5 Suku kompak mengenakan pakaian adat berwarna putih.
Saat menuju ke rumah gendang, para tamu di iringi bunyi tambor dan gong disertai lagu inenaro dan tarian Sae yang Khas membuat acara meriah.
Selain itu, salah satu tokoh muda sebagai pewaris budaya Manggarai dari kampung Cekas, Kordianus Lado(29), menjelaskan, dalam budaya Manggarai terdapat lima prinsip yang harus dijaga keseimbangan dan keselarasannya yaitu Lingko (kebun), Wae Teku (Mata Air), Natas Labar (halaman rumah), Compang (altar persembahan/sesajian) dan Mbaru Ka’eng (rumah tinggal).
“Pelaksanaan Caling Walis Celung Ntaung selalu terkait dengan refleksi atas kelima sendi kehidupan tersebut secara integral. Jika ada ketidakseimbangan dalam kehidupan, melalui acara Caling Walis Celung Ntaung, warga kampung kemudian mencari kekuatan dan perlindungan kepada lima sendi kehidupan tersebut,” jelas Gio sapaan akrab Kordianus lando.
Kata Dia, Barong wae merupakan ritual penghormatan terhadap leluhur yang menjaga mata air. Diyakini agar para leluhur tersebut,menganugerahkan air yang berlimpah dan selalu membasahi bumi untuk mengairi sawah dan ladang, serta menghidupkan semua mahluk hidup di Bumi.
Sedangkan barong Compang itu merupakan, penghormatan terhadap para leluhur penjaga kampung. Compang adalah simbol altar kurban adat terhadap Wujud Tertinggi. Melalui Barong Compang warga Kampung Cekas berharap roh penjaga kampung menyelamatkan kampung dari serangan mususegala segala bentuk bencana dan penyakit yang akan menimpa kampung tersebut.
Kegiatan Caling Walis Celung Ntaung ditutup dengan Perayaan Misa pada tanggal 7 Juli dan diikuti oleh warga Kampung Cekas yang mayoritas beragama Katolik. Misa menjadi tanda bahwa seluruh persembahan dalam rangkaian Caling Waling Celung Ntaung disatukan dengan persembahan dalam Perayaan Ekaristi, sebagai tanda kehadiran Tuhan sebagai awal dan akhir hidup manusia. (Oktafianus Dalang)

