Kamis, 8 Desember 2022

Bupati Trenggalek: Kalau Kita Baik Dengan Alam Maka Alam Akan Baik dengan Kita

Bupati Trenggalek: Kalau Kita Baik Dengan Alam Maka Alam Akan Baik dengan Kita

Trenggalek, PORDES – Bupati Trenggalek, Mochamad Nur Arifin, menanam bambu di areal Pemandian Tapan, Desa/ Kecamatan Karangan, Kamis (24/11/2022).

“Kalau kita baik dengan alam maka alam akan baik dengan kita,” ucap Bupati yang akrab disapa Gus Ipin dalam rangka mengingatkan kembali kesadaran masyarakat untuk senantiasa bisa menjaga kelestarian alam.

Bencana alam yang terjadi secara bertubi-tubi menjadi pengingat pentingnya menjaga alam. Menurut Mochamad Nur Arifin, dulu-dulu tidak ada curah hujan hingga 200-300 ml per detik.

- Advertisement -

“Se ekstrem-ekstremnya cuaca curah hujan 150 ml per detik. Itupun di tahun 90-an mengakibatkan banjir bandang yang cukup hebat. Padahal saat itu kondisi alam masih cukup terjaga,” katanya.

Baca juga: FGD Pandawa Nusantara, Penyaluran BBM Subsidi Berjalan Stabil di Banten

Gus Ipin juga mengatakan, sedangkan saat ini hutan mulai ada pergeseran. Tanaman hutan bercampur dengan tanaman pangan. Maka tidak bisa dibayangkan dalam cuaca ekstrem yang dialami beberapa waktu kemarin, hujan mencapai 200 hingga 300 ml per detik. Maka tidak bisa dipungkiri, banjir bandang tidak bisa terelakkan.

“Setiap aktivitas manusia menghasilkan gas buang (emisi Karbon). Mulai dari asap kendaraan, memasak dan aktivitas lainnya dan ini diyakini menjadi salah satu penyebab perubahan iklim tersebut,” jelas Gus Ipin.

Untuk memperbaiki itu, Bupati Trenggalek telah mengeluarkan peraturan dimana setiap warga masyarakatnya diwajibkan menanam 1 pohon setiap tahun sebagai kompensasi terhadap emisi karbon yang dihasilkan.

Semakin besar emisi karbon yang dihasilkan dari aktivitas yang dilakukan, maka semakin banyak kompensasi pohon yang harus di tanam.

Seperti Bupati Trenggalek, kewajibannya menanam 50 pohon setahun.

Menanggapi penanaman pohon bambu di areal Pemandian Tapan, Bupati muda itu sangat mengapresiasi upaya ini.

“Bambu ini dikenal sebagai emas hijau, kenapa disebut emas hijau, karena bambu bisa mengurangi biaya kerusakan lingkungan yang semakin kritis,” ucapnya.

Baca juga: Tertimbun Reruntuhan Selama 3 Hari Akibat Gempa Cianjur, Seorang Balita di Temukan Selamat

“Sekarang kita niati tanam bambu untuk menjaga Trenggalek. Pastikan di lereng-lereng yang permukaannya gampang longsor itu diperkuat dengan bambu dan nanti bisa diselingi dengan vertiver tanaman yang punya rumpun banyak, akar kuat dan panjang,” imbuhnya.

“Ini penting karena kalau kita lihat dari kasus banjir yang ada di Trenggalek, banjir tidak hanya air namun juga di ikuti sedimen. Berarti ada permukaan yang larut menjadi sedimen. Inilah yang perlu kita kurangi. Selain itu bambu juga terkenal menyimpan airnya cukup banyak. Di setiap ruas kalau kita potong didalamnya bisa ada airnya,” tambah Bupati.

Yang paling penting, lanjutnya, dari sisi ekonomi mulai sandang, pangan, papan, kerajinan itu semua bisa di buat dari bambu. Ada teminologi serat bambu bisa digunakan untuk tekstil dan lain sebagainya.

Pakaian dengan serat bambu dianggap lebih menyehatkan karena lebih menyerap keringat. Pangan, olahan rebung mungkin sudah tidak asing lagi bagi kita. Kemudian untuk konstruksi, bahan baku pembuatan rumah. Bahkan dalam jamuan G 20, makan siang kontruksi yang digunakan dari bambu. Di dunia kontruksi bambu ini sudah sangat berkembang. Bambu bisa dijadikan balok balok kayu, sehingga ketika mau dibuat mebel lebih mudah dan presisi.

Bahkan konstruksi jalan yang nilainya triliunan, jalan tol di kawasan yang khususnya tonase berat, pondasinya juga menggunakan trucuk bambu. Karena bambu ini terkenal lentur.

“Kita kemarin berdiskusi dengan beberapa OPD salah satunya PUPR, karena kita sedang pemulihan pasca bencana banjir dan kita memutuskan untuk pemulihan tebing-tebing yang rawan dengan bambu. Karena bambu teksturnya yang lentur diyakini bisa melawan benturan air, sedangkan beton bisa hancur, bisa luluh,”katanya.

Sepakat dengan penanaman bambu itu, namun Bupati Trenggalek ini memberikan catatan agar cara panen nantinya dilakukan dengan cara yang benar.

“Kalau diambil rebungnya maka jangan diambil habis semuanya. Paling hanya 20-30% saja agar rumpunnya tetap bisa tumbuh, tidak habis dalam satu waktu saja. Bahkan ketika memanen bambu yang besar, juga jangan langsung ditebas semuanya. Lakukan yang sama, satu rumpun ini ambil 20% saja, kemudian ambil rumpun yang lain. Sehingga bambu ini tetap lestari dan ekonominya tetap didapat,” terang penghobi bola itu.

“Dengan lestari maka kita akan terjaga dari bencana. Baik bencana kurang air maupun banjir dan yang lainnya. Saya telah mengeluarkan peraturan setiap warga Trenggalek satu tahun minimal menanam 1 tanaman kayu seperti bambu. Karena setiap kita beraktivitas ini mengeluarkan polusi dan polusi ini yang menyebabkan perubahan iklim,” tandasnya. (Rudi Sukamto)

Sumber: Humas Pemkab Trenggalek

Berita Populer
BERITA HARI INI