Keluhan Atlet Soal Biaya Training Camp, Ketua Bapopsi Tangerang: Itu Urusan Internal Cabor

PORDES TANGERANG — Ketua Badan Pembina Olahraga Pelajar Seluruh Indonesia Kabupaten Tangerang (Bapopsi), Mamat Matlubi, menanggapi keluhan salah satu atlet pencak silat muda, Aero Satria Jaya (16), warga Kecamatan Sepatan, yang mengaku tidak mendapatkan dukungan anggaran selama mengikuti pemusatan latihan atau training camp.

Diketahui, Aero merupakan atlet pencak silat yang tengah dipersiapkan untuk menghadapi Pekan Olahraga Pelajar Daerah 2026 (POPDA).

Mamat menyayangkan tidak adanya koordinasi dari pihak penanggung jawab cabang olahraga (cabor) dengan Bapopsi terkait pelaksanaan kegiatan training camp tersebut.

“Seharusnya ada koordinasi terlebih dahulu,” ujar Mamat kepada Portaldesa.co, di hadapan pelatih cabor pencak silat.

Ia menjelaskan, pelaksanaan training camp bersifat situasional dan dapat dilakukan apabila telah ada kesepakatan antara pelatih, pihak sekolah, atlet, serta keluarga atlet.

“Kalau memang sudah ada kesepakatan bersama dan tidak keberatan, ya silakan saja,” katanya.

Namun terkait pembiayaan, Mamat menegaskan hal tersebut merupakan tanggung jawab internal masing-masing cabang olahraga.

“Untuk urusan pembiayaan, itu menjadi urusan internal cabor,” tegasnya.

Saat ditanya mengenai pentingnya training camp meskipun tanpa dukungan anggaran, Mamat mengakui kegiatan tersebut penting, namun keputusan tetap diserahkan kepada masing-masing cabang olahraga.

Ia menambahkan, Pemerintah Kabupaten Tangerang melalui Dinas terkait sebenarnya telah mengalokasikan anggaran pembinaan atlet melalui program Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar Daerah (PPLPD).

“Pelatih mendapatkan Rp1,5 juta dan atlet Rp1 juta per bulan selama 10 bulan,” jelasnya.

Mengenai total anggaran olahraga yang digelontorkan oleh Pemerintah Kabupaten Tangerang, Mamat menyebutkan nilainya sekitar Rp5 miliar.

“Kalau soal cukup atau tidak, saya tidak ingin berkomentar. Pada prinsipnya kami hanya menggunakan anggaran yang ada. Kalau ditanya ke dinas mana pun, pasti jawabannya anggaran tidak pernah cukup,” tandasnya.

Ia juga menegaskan bahwa pembinaan atlet untuk menghadapi POPDA maupun Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) telah disiapkan melalui anggaran PPLPD, meskipun belum semua atlet dapat terakomodasi.

“Tidak semua atlet ter-cover oleh PPLPD, namun saat ini masih dalam proses penganggaran,” ujarnya.

Mamat menambahkan, persiapan dan pembinaan atlet sebenarnya telah dilakukan sejak dua tahun terakhir.

“Persiapan sudah dilakukan sejak dua tahun lalu, dan itu menurut kami sudah cukup,” katanya.

Sementara itu, Yuli, pelatih cabor pencak silat, menegaskan bahwa kegiatan training camp sangat dibutuhkan menjelang turnamen maupun kejuaraan.

Menurutnya, pemusatan latihan dilakukan berdasarkan kesepakatan semua pihak, termasuk keluarga atlet.

“Training camp sangat penting untuk semua cabang olahraga, baik di tingkat atas maupun kabupaten/kota. Tujuannya agar atlet lebih terkondisi dan mampu mencapai performa maksimal,” jelas Yuli.

Ia juga mengakui adanya kendala jarak antara tempat tinggal atlet yang cukup jauh dari lokasi pemusatan latihan.

“Ada atlet yang tinggal di Sepatan, Kresek, bahkan Cisauk. Itu menjadi tantangan kami, bagaimana mengatasi kendala jarak tersebut,” pungkasnya. (Han)